Hari Rabu 17 Agustus 2011, Kita sebagai warga negara Indonesia memperingati 66 tahun berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan 1431 Hijriyah. Puasa Ramadhan tahun ini mempunyai hubungan historis-semiotis dengan momentum kemerdekaan RI. Karena hari kemerdekaan Indonesia tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kita diingatkan oleh sejarah bahwa Indonesia lahir 17 Agustus 1945 berkenaan dengan bulan Ramadhan yang keduanya bertujuan kemerdekaan dan atau pembebasan. Antara 17 Agustus dan puasa Ramadhan dalam konteks Indonesia adalah dua momentum yang bertemu pada satu titik yakni kemerdekaan. Hanya saja konteks kemerdekaan yang terkandung didalamnya berbeda. Pada 17 Agustus merupakan momen terlepasnya bangsa Indonesia dari cengkraman kaum kolonial adalah cermin dari kemerdekaan fisik. Menurut Sri Mulyani (Kompas, 17/8/09), "Arti kemerdekaan suatu misi untuk membangun negara karena merdeka dari penjajahan itu berarti kita juga harus memerdekakan dari kemiskinan, dari berbagai hal yang masih mengancam dan mengurangi kesejahteraan rakyat, keselamatan rakyat," Puasa Ramadhan pada hakekatnya mencerminkan spirit kemerdekaan. Kemerdekaan dalam konteks Ramadhan adalah terbebasnya jiwa dari belenggu nafsu yang menjajah diri kita seperti arogansi, suka korupsi, suka maling, suka bohong, iri, marah, dengki, anarkis, penindasan, kesewenang-wenangan dan sejumlah penyakit hati lainnya yang melekat pada diri manusia. Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kepakaan sosial, menumbuhkan sikap kemandirian, pintar merasa, kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Rasulullah SAW menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.Dengan demikian hadirnya Ramadhan yang bersanding erat dengan momentum 17 Agustus merupakan seruan kepada bangsa Indonesia untuk menuju kemerdekaan yang kaffah, kemerdekaan yang paripurna dan holistik. Kemerdekaan fisik yang telah diraih harus disempurnakan dengan kemerdekaan rohani. Kemerdekaan yang kaffah dapat diaktualisasikan dalam bentuk pengendalian diri. Karena pengendalian diri ini merupakan bukti bahwa seseorang mampu menguasai nafsunya dan bukan dikuasai nafsu. Kita tidak boleh memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan yang serba boleh. Kemerdekaan juga tidak boleh dipahami sebagai usaha untuk bebas melanggar tanpa kenal aturan dan norma-norma yang ada. Kemerdekaan yang dimaksud adalah kebebasan untuk mengatur, mencipta merasa, sesuai dengan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Proklamasi 17 Agustus menyatakan kebebasan dari penjajah baik secara fisik maupun psikis. Penjajah yang secara jelas-jelas berwujud dan kita semua dapat melawan penjajah tersebut secara berjamaah asal punya tujuan yang sama, komitmen bersama tanpa melihat ras, suku, agama dll. Sementara itu Ramadhan menyatakan pembebasan dari penjajah secara psikis dan hanya dapat dilawan oleh kekuatan iman. Pembebasan dalam bentuk psikis adalah kebebasan dari pembudakan hawa nafsu dalam bentuk pengendalian diri.  Akhirnya, semoga peringatan HUT Kemerdekan RI yang jatuh pada bulan Ramadhan ini dapat dijadikan momentum untuk mawas diri, pintar merasa, meningkatkan kepekaan sosial, serta membebaskan jiwa dari nafsu angkara dengan kemerdekaan pengendalian diri masing-masing yang implementasinya akan terlihat pada makna kemerdekaan bangsa yang hakiki dengan bertekad untuk mengisi kemerdekaan dengan kompetensi, kepandaian, dan ilmu pengetahuan sesuai dengan kemampuan di bidang kita masing-masing yang semua itu bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT agar kita semua mendapat ridhonya. Amin Ya Rabbal Allamin. Semoga bermanfaat dan terimakasih. |
0 komentar:
Post a Comment